Palembang. Provinsi Sumatera Selatan mencetak sejarah baru di awal tahun 2026. Dalam Rakor Sinergi Program Pengentasan Kemiskinan yang digelar di Griya Agung, Kamis (5/2), Gubernur Sumsel H. Herman Deru secara resmi mengumumkan bahwa angka kemiskinan di Bumi Sriwijaya berhasil menyentuh angka 9,85%. Pencapaian ini menandai keberhasilan Sumsel yang selama bertahun-tahun, seolah "terjebak" dalam zona kemiskinan dua digit.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tren penurunan kemiskinan di Sumsel sempat mengalami pasang surut:
Sept 2018: 12,82%
Sept 2019: 12,56%
Sept 2021: 12,79% (Dampak Pandemi)
Sept 2022: 11,95%
Maret 2023 : 11,78%
Maret 2024: 10,51%
Maret 2025: 10,15%
Namun, akselerasi signifikan terjadi tepat di satu tahun masa kepemimpinan HDCU. Kebijakan agresif pemerintah provinsi berhasil memangkas angka tersebut secara drastis hingga menyentuh 9,85 persen di awal 2026.
Penurunan kemiskinan yang drastis ini dinilai sebagai hasil dari pertumbuhan ekonomi yang merata, di mana sektor-sektor padat karya seperti pertanian mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung.
Berbagai program strategis dicanangkan seperti Program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) mengubah pola pikir dari pembeli menjadi penghasil pangan , Pengendalian Inflasi mellaui operasi Pasar murah yang masif, Swasembada Pangan dengan memastikan kesediaan stok di daerah, dan Pembangunan Infrastruktur merata di daerah.
Didampingi Wakil Gubernur H. Cik Ujang, Gubernur HD tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari kerja keras kolektif ("keroyokan") antara Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota.
“Hari ini saya merasa sangat berbinar. Cita-cita besar kita agar kemiskinan Sumsel menjadi satu digit akhirnya terwujud. Angka 9,85% ini bukan sekadar statistik, tapi bukti nyata bahwa upaya kita selama ini membuahkan hasil. Dan ini merupakan kado terindah di Tahun Pertama Kepemimpinan HDCU” ujar HD dengan nada haru.
Turut hadir Para Bupati/ Walikota dan OPD lainnya